Archive for April, 2005

Rumah Joglo

Sunday, April 24th, 2005

So many times I passed this place by but not until yesterday, 23rd April 2005 eventually I stopped by for lunch. I had some visitors from Surabaya and anyway I have to find a place for lunch. If you have already visited Baso Lela and Waroeng Kopi you can keep going thru rocky road until you will find steep left turn. Otherwise you have to take the way to Dago Resort Residence and it is the first right turn, the road is not a smooth pavement. It was a macadam road but it is OK, you can go by sedan as well.
Parking lot was so scary man, I am telling you the truth because if you miss by a meter… then so long my friend.. hehehehe :p how scary …better be watch by your self :)
The dishes actually Nasi Liwet (stated in Menu), it was two kind of Nasi Liwet, Nasi Liwet Ikan Asin and Nasi Liwet Ayam Jamur. Well if you don’t know Nasi Liwet looks like it is cooked rice, the way cooking rice is by let the rice cooked inside the pot, its kind of baking the clay pot. So you will find brownish burnt rice inside the pot. Those of you who have traveled to other Asian Countries this kind of rice cook is usually called CLAY-POT RICE. Years ago one of my friend Eva had a cafe in Jalan Dago called Warung Kembang. It was Nasi Clay-pot is the main-course menu. Even it was served with some varieties flavour.So it is not the same rice you probably eat everyday using rice cooker. Sundanese people used to have Nasi Liwet when they in such emergency situation like camping, working in field or maybe just to lazy to cook. But usually they are using pan instead CLAY POT guess enamel ware is more convenience to be carried.
We were four of us and we ordered :
2 portion Nasi Liwet Ikan Asin
2 portion Nasi Liwet Ayam Jamur
4pcs Ayam Goreng
Cold and hot drinks

Lalapan of some cucumbers and selada with sambal is compliment. Well back to the name of this cafe Rumah Joglo. Joglo is derived from Javanese house it is a traditional Javanese house. So no wonder Lalapan is just two kind of vegetable.

The menu is not special, I don’t know why it costed that much I mean its only baked rice get real ???
Maybe it need bit of strength when they serve the menu. From the kitchen to our table the waiter had to go by stairs, the places is like a garden because almost all we can saw is leaves. But the places actually was in a slope so you have to go down and up by stairs.
They view was not so good because half of horizon is people houses and the rest is city. Maybe if you visit this place it is better be at afternoon so you might see city light view from this place.
Anyway the food is not special but expensive… and also the place is not so cozy I mean if you want to spend hours here siting in a chair u probably think about twice. The chairs it is not cozy it is more like chair in your home when you are having meal.
For you who doesnt live in Bandung maybe this is such interesting cafe you want to visit.
All our orders cost about IDR 100.000 for this lunch with those dishes I mentioned before. So it is about IDR 25.000 each, is it cheap ? well what do you think ?

Bandung oh Bandungku Malang….

Sunday, April 17th, 2005

Alangkah sedihnya hatiku sekarang melihat Bandung kota kelahiranku dan kota tempat yang buat aku gak bisa lama-lama berada di tempat lain. Mungkin tidak berlebihan untuk seseorang yang sudah selama hampir seumur hidupnya berada di Bandung. Walaupun saya bukan ahli planologi, bukan ahli tata kota, bukan arsitek, bukan seseorang yang mungkin didengar untuk sebuah komentar tentang Bandung tapi tetap saya merasa sedih dengan apa yang terjadi dengan Bandung sekarang. Dan ironisnya… sangaaat ironis sekali karena beratus-ratus orang sukses dengan keahlian tata kota, planologi, arsitek, manajemen pemerintahan dan profesi lainya yang mendukung untuk sebuah kota telah LAHIR dari kota dan LULUS dari berbagai macam institusi pendidikan yang ada di Bandung. Apakah saya harus sebutkan satu persatu ?? gak usah kan lah.. Anda pasti tau kualitas lulusan Planologi ITB, Arsitek UNPAR, Sipil UNPAR/ITB dan mungkin juga lulusan STPDN… heheh sorry gak begitu tau jurusan apa saja disana. Anyway bukan hanya lulusan dari institusi pendidikan yang saya sebutkan barusan masih banyak sekali institusi pendidikan di Bandung yang berkualitas dan menetaskan manusia yang cerdas di bidangnya masing-masing.

Berbagai masalah di kota Bandung yang saya lihat memang harus ada tidak lanjut yang SERIUS :

1. Kebersihan kota, sudah terbukti jika PEMKOT/PEMDA sangat lamban sekali responnya setelah kejadian longsor di Cimahi tempat penampungan akhir sampah. Ternyata sangat mudah membuat ketidakseimbangan kota Bandung… gak usah bom gedung bertingkat/tempat publik lainnya. Cukup saja TPA saja di BOM heheheheh akhirnya kelabakan semua warga Bandung. Akibat sampah yang tidak terbuang pada waktunya tidak usah disebutkan apa efeknya…  Anak SD juga kalau diajak diskusi pasti ngerti dia bisa tau efeknya seperti apa.

2. Pemeliharaan infrastruktur jalan dan pendukungnya yang sangat minim, ah alhamdulillah ada KAA walaupun saya tidak terlalu concern apa sih yang bisa dihasilkan untuk KAA tetapi yang pasti jalanan di Bandung sekarang lebih mulus. Apakah memang harus demikian, haruskah perbaikan ini terjadi jika ada kegiatan yang melibatkan orang luar melihat kota Bandung ? Sedih dong ya kalo gitu terus…  Mudah-mudahan selama KAA berlangsung tidak ada hujan besar di Bandung. Jika iya wah mungkin mereka tamu-tamu negara kita akan melihat kalau di Bandung saat hujan jalanan kan berubah menjadi saluran drainase yang paling besar mereka pernah lihat. Dan mudah-mudahan mobil-mobil mewah yang disiapkan panitia juga akan mogok karena terendam air. Mungkin dengan cara ini drainase jalanan akan diperbaiki mendadak juga oleh yang punya kota Bandung ini hehehhehe :p

3. Trasportasi umum adalah sesuatu yang sangat minim.Wajar kan makin macet di Bandung karena semakin banyak mobil pribadi ada di Bandung ? Ya menurut saya wajar karena jika transportasi umum belum terasa nyaman pilihan orang adalah kendaraan pribadi, mau dibatasi dengan undang-undang apapun rasanya sangatlah sulit meredam jumlah kendaraan pribadi. Mass transportation adalah jawaban yang paling tepat. Asal pemerintah serius dan bisa menjamin/melindungi investor saya yakin investor dari luar akan masuk dengan berebut untuk projek ini. Mimpi kale ya di Bandung ada SUBWAY. Tapi jika ada bayangkan nikmatnya jalan-jalan dari Setiabudhi ke Alun-alun bisa ditempuh dibawah 30menit dengan tidak menggunakan kendaraan pribadi.
Hak pejalan kaki pun skarang sudah banyak dirampas dengan pertukaran dalil bisnis/uang, jika Anda ada di Bandung bisakah Anda jalan dari ujung dago bawah Jalan Merdeka sampai ke simpang dago tanpa harus keluar dari trotoar. Saya jamin pasti tidak bisa karena sekarang PEMKOT jelas-jelas memberikan kemudahan untuk pengusaha untuk lahan parkir dibanding mempertahankan hak pejalan kaki. Contoh yang paling mudah adalah trotoar di Hotel Holiday Inn jika pada saat tamu hotel banyak ya trotoar pedestarian kena babat deh jadi kalau kita jalan kaki melewati Holiday Inn kadang kita harus keluar dari trotoar mengalah karena ada kendaraan bermotor yang parkir. Dan herannya di Bandung gak ada yang protes ya… saya sih sebetulnya protes tapi ya kumaha atuh da saya mah bukan siapa-siapa :) Pak Walikota kumaha atuh yeuh ….. kasih solusi atuh ???

4. Lahan hijau, semakin ke sini kok malah makin banyak lahan hijau dihajar jadi lahan beton ? Dinas TataKota mungkin silap atau mungkin juga harus ada yang memberitahu kalau di Bandung ini kalo di toong dari satelit (orang sekolahan bilangnya remote sensing) ternyata yang masih hijau adalah Bandung utara. Itupun sedikit dan berkurang terus, pantesan ya Bandung hareudang ayeuna mah selain dari efek iklim global ya terus terang lahan hijau di Bandung semakin habis. Tapi gimana ya kalau lahan hijau ada tapi tidak diurus akhirnya jadi LAPAK DAGANG. Kenapa sih mahasiswa sekarang kurang sensitif untuk masalah lingkungan ini.. dari pada nyiksa anak orang/ngospek eh masih jaman gak sih ospek. Hareeee geneeee ospek ????? hehehehe coba buat kegiatan yang lebih bermanfaat misalnya buat acara "Bandung Seribu Pohon". Kalau saja beberapa ratus mahasiswa baru ITB diwajibkan menanam 1 pohon di satu lokasi kan lumayan, terus kegiatan ini diikuti oleh UNPAD, UNPAR dan semua Universitas yang ada di Bandung seharusnya tidak sulit kan ? Kalau perlu saya nyumbang lah puluhan bibit pohon. Why not lah tul gak… antara nantinya pohon yang ditumbuh jadi kering mati itu sih biasa.

Waduh ini baru 4 kategori aja asa hareudang ngetik teh…. wah sigana kieu yeuh ari teu biasa menulis mah…. langsung bereaksi badan yeuh.. Bae lah.. teu nanaon.

Saya sangat peduli atas semua perbaikan yang harus dilakukan di Kota Bandung, apakah Anda peduli ?